Dukungan Dari Luar Diri Kita, Keluarga, Lingkungan, Tamu, Karabat, Asisten, Sekretaris, Penonton, Sesama Seniman


Dukungan dari luar diri kita juga menentukan sukses dan gagalnya seorang penulis skenario.


Dukungan dari keluarga sangat diperlukan, dalam hal ini bisa dukungan dari orang tua, suami/istri, anak-anak, saudara-saudara, dan sanak famili.

Dukungan orang tua tentu sangat diharapkan oleh mereka yang belum menikah dan ingin mencapai sukses sebagai penulis skenario. Dukungan yang diharapkan adalah menghargai waktu mereka, meski mereka tampak seperti sedang "menganggur" di rumah. Lihatlah kesuksesan Rachmania Arunita saat menulis novel dan skenario film Eiffel... I'm in Love, pasti tak lepas dari dukungan orang tuanya.
Sebagai suami/istri dari pasangan yang bekerja sebagai penulis skenario, sebaiknya mengerti saat-saat pasangan sedang mengerjakan pekerjaan menulis. Memang penulis skenario umumnya bekerja di rumah, namun jangan anggap mereka tidak sedang melakukan apa-apa sehingga dapat dengan leluasa diganggu. Misalnya, seorang suami yang istrinya bekerja sebagai penulis skenario, sebaiknya tidak sepenuhnya membebankan urusan rumah tangga kepada sang istri yang bekerja di rumah. Dibutuhkan kerja sama yang baik di antara suami-istri agar pekerjaan istri sebagai penulis skenario tidak terganggu.

Kepada anak-anak yang sudah besar, juga perlu diberi pengertian agar memahami orang tua yang bekerja sebagai penulis skenario. Sementara, bila anak-anak masih kecil, sebaiknya orang tualah yang bisa mengatur waktu kerja dengan baik. Pengalaman saya selama ini cukup beruntung memiliki suami dan anak-anak yang penuh pengertian. Pekerjaan suami saya lebih banyak di luar rumah, bahkan waktu kerjanya bisa dari pagi hingga tengah malam, kadang-kadang ke luar kota sehingga saya pastikan dia jarang mengganggu kesibukan saya. Bahkan saat dia di rumah pun, jika saya sedang sibuk bekerja di kamar, dia lebih memilih menonton televisi di ruang keluarga. Selain itu, saat tak ada pembantu, suami dan anak-anak pun bisa bekerja sama dengan saya, mengerjakan pekerjaan rumah tangga bersama-sama.

Ruang tidur yang juga ruang kerja saya terbuka 24 jam. Bagi anak-anak saya, jam-jam mereka masuk ke kamar saya yaitu pagi saat akan berangkat ke sekolah, mereka membangunkan saya, mencium saya, lalu pergi ke sekolah. Siang saat pulang sekolah, mereka mencium saya lagi, lalu ngobrol beberapa menit menceritakan hal-hal yang baru dialami di sekolah. Setelah mereka ganti pakaian, kami pun makan bersama. Selesai makan saya masuk kamar lagi dan mereka tidak mengganggu sampai jam makan malam. Akan tetapi, di sela-sela jam itu jika mereka ingin ngobrol dengan saya, biasanya mereka masuk kamar dan bertanya: "Sibuk nggak, nih...?". Jika saya tidak terlalu sibuk, mereka akan tiduran di ranjang saya... ngobrol santai sambil nonton TV, laptop terbuka, kadang-kadang saya justru banyak mendapat inspirasi cerita dari ketiga anak saya yang sudah SMP dan SMA ini. Jika saya sedang dikejar setoran, saya akan sampaikan dan mereka pun bisa mengerti. Namun, jika yang mereka bicarakan saya anggap hal yang harus saya tangani, maka saya memilih meninggalkan sebentar pekerjaan saya dan melayani mereka.

Sejak dulu saya membiasakan diri dengan gaya bekerja yang tidak eksklusif, saya bisa kerja dalam kondisi lingkungan seramai apa pun sehingga sepanjang bekerja sebagai penulis skenario, tidak pernah ada kasus produser mengeluh tentang ketidakdisiplinan saya dalam menyetor pesanan. Saya selalu on time. Bahkan kadang bisa lebih cepat karena seluruh keluarga mendukung kerja saya, termasuk orang tua saya yang tinggal di Surabaya.


Sebagai penulis skenario, sebaiknya kita memilih rumah yang tenang, aman, dan nyaman. Idealnya, lingkungan jangan sampai mengganggu kerja yang sangat membutuhkan konsentrasi ini. Tapi, bila lingkungan sudah telanjur ada sebelum kita menjadi penulis skenario maka yang terbaik adalah kita yang membiasakan diri bekerja dengan kondisi apa adanya.

Kita juga bisa membuka diri pada lingkungan, agar lingkungan tahu bahwa kita adalah seorang yang bekerja di rumah dan memerlu-kan konsentrasi saat bekerja sehingga diharapkan warga di sekitar rumah dapat memberikan dukungan dengan tidak membuat gaduh di dekat rumah kita. Termasuk pula dapat memahami jam kerja kita dan tidak sering datang berkunjung untuk hal-hal yang tidak penting, atau hanya sekadar ngerumpi dan menyebar gosip.

Namun, kita juga tidak bisa mengharap terlalu banyak dukungan dari lingkungan karena tidak semua orang bisa paham dan maklum dengan apa yang kita kerjakan. Banyak juga yang menganggap, "Ah, nulis gitu aja kok terganggu...?" Sehingga mereka tidak akan peduli pada kita. Itu hak mereka, kita tetap harus menghargainya.
Sejarawan Yunani, Herodotus, mengatakan, "Men are dependent on circumstances, not circumstances on men", Manusia tergantung pada lingkungan, bukan lingkungan yang tergantung pada manusia.


Hal sepele yang juga sering mengganggu kerja seorang penulis skenario adalah kedatangan tamu atau kerabat. Sedapat mungkin kita perlu membatasi waktu kedatangan tamu-tamu yang mungkin hanya akan menyita waktu kerja kita. Biasakan setiap tamu yang akan datang sudah membuat janji terlebih dulu. Keluarga, kerabat, dan tetangga yang ingin bertamu, sebaiknya paham posisi kita. Meski sedang di rumah, bukan berarti kita pasti bisa menerima mereka setiap saat.

Kita perlu mendisiplinkan diri terhadap pekerjaan. Jangan mentang-mentang tempat kerja di rumah, kita jadi keasyikan menerima tamu dan lupa pada pekerjaan. Lebih-lebih bila naskah yang sedang kita kerjakan harus segera disetor atau sinetron tersebut kejar tayang sehingga kita tidak bisa mengesampingkan pekerjaan itu.

Dalam hal ini kita harus bisa mengendalikan diri dan bersikap tegas menghadapi tamu yang datang tanpa janji pada jam-jam kerja. Meski, dalam hal ini saya sendiri kadang-kadang juga masih belum bisa tegas. Jika tamu dekat dan sering datang, saya bisa saja me-ninggalkan mereka mengobrol dengan penghuni rumah yang lain, dan saya tetap bekerja, tapi terhadap tamu dari jauh yang tiba-tiba datang, saya sering menyerah. Untungnya sejauh ini kendala ini tidak sampai mempengaruhi kerja saya karena saya pasti bisa mengganti waktu yang hilang tadi pada malam harinya, atau bila perlu lembur hingga pagi.


Bantuan asisten dan sekretaris juga sangat diperlukan, terutama jika pekerjaan telah mendesak. Tugas mereka adalah membantu saat pesanan naskah mulai banyak. Meski demikian, asisten dan sekretaris pun harus benar-benar orang yang bisa membantu dan bermanfaat bagi pekerjaan. Syarat utama adalah mereka harus orang-orang yang loyal tapi cerdas, bukan orang-orang yang sok pintar tapi hasilnya malah semaunya sendiri, sulit diatur, dan akan semakin merepotkan kita.

Saya lebih suka mendidik pemuda-pemudi yang masih nol tapi cerdas sehingga sepenuhnya saya bisa mengarahkan mereka dalam melakukan pekerjaan. Pengalaman saya tahun 1999-2000, saya mulai kewalahan mengerjakan order skenario. Saya kemudian membentuk tim kreatif yang kerjanya membantu memberi masukan ide-ide cerita serta membantu membuat sinopsis dan plot yang sudah kami bahas bersama, termasuk juga di dalam tim ini ada tiga orang sekretaris

yang masing-masing tugasnya memformat dan mengetik skenario, menerima tamu dan telepon, serta urusan keluar rumah dan hal pribadi (ambil honor, dsb). Mereka saya butuhkan karena saat itu saya dituntut untuk menyelesaikan skenario 5 episode dalam waktu satu minggu, untuk dua judul.

Sistem kerjanya, saya menulis steno dengan tangan dari siang hingga pagi untuk kemudian diketik oleh sekretaris. Saat itu saya manfaatkan untuk tidur. Siang harinya saya bangun, menulis steno lagi dan langsung diketik oleh sekretaris, begitu seterusnya. Mendapatkan asisten dan sekretaris yang baik memang tidak mudah. Meskipun kita bekerja di rumah dengan suasana santai, asisten dan sekretaris tidak boleh meremehkan pekerjaan ini karena hasil kerjanya harus maksimal. Saya lebih senang mengumpulkan semua asisten dan sekretaris dalam rumah saya sehingga saya bisa memantau kerja mereka satu per satu.

Kepada mereka, saya menanamkan disiplin dan niat bekerja dengan baik. Berawal dari ketelitian, jika ada satu kata saja salah tik, saya meminta mereka untuk menggantinya dan mencetak ulang. Hal kecil semacam ini perlu kita tanamkan agar asisten atau sekretaris bisa mendukung kerja kita secara maksimal.


Dukungan penonton bisa berupa pujian atau kritikan, sebagai efek dari hasil kerja kita sebagai penulis skenario. Karya yang bagus pasti akan mendapatkan pujian dari penonton, meski kita perlu hati-hati karena pujian yang berlebihan bisa juga membuat kita lupa diri dan menjadi arogan. Sebaliknya, karya yang buruk akan mendapat kritikan. Inilah risiko yang harus kita tanggung, yang bila berlebihan bisa membuat kita putus asa.

Sebagai penulis skenario sebaiknya kita juga siap menyikapi dua hal tersebut dan menganggap biasa segala sesuatu yang kita terima secara berlebihan. Sebagai manusia, kita tidak akan pernah sempurna, tidak mungkin karya kita akan bagus selamanya, pasti sekali waktu pernah jelek; demikian pula sebaliknya, tidak mungkin kita terus-menerus menghasilkan karya yang jelek, sekali waktu pasti ada yang bagus. Dengan demikian, kita akan selalu dapat memperbaiki karya-karya yang kurang baik dan tidak terlalu kaget jika ada karya yang mendapat sambutan meriah. Anggaplah biasa saja!

Hal ini perlu saya sampaikan, mengingat dalam dunia seni ini banyak sekali orang yang tidak siap menerima kejutan. Banyak orang yang tanpa proses panjang, begitu sekali karyanya sukses, langsung menjadi arogan dan pasang harga gila-gilaan. Ini yang sebaiknya kita hindari. Tetaplah sederhana dan menjalani langkah kita apa adanya. Sebab, apresiasi penonton terhadap karya kita sangat relatif dan ini dapat digunakan untuk menetralisir gejolak emosi kita dalam menghadapi pujian dan kritikan yang berlebihan tadi. Bukankah kita tidak mungkin mengikuti selera semua orang?

Tentang hal ini, saya pernah menerima respon yang luar biasa dari penonton saat menulis serial Menggapai Bintang, yang masih ditayangkan di TV-7 (saat masih menulis buku ini). Pada episode ke-4 tayangan itu saya mencantumkan nomer HP putri saya, yang sama sekali tidak pernah terpikir akan terjadi sesuatu yang menghebohkan. Ternyata dalam waktu kurang dari 1 menit setelah nomer itu disebut oleh seorang tokoh di sinetron Menggapai Bintang, telepon dan SMS masuk ke HP putri saya yang hingga sekitar satu minggu jumlahnya mencapai 500 panggilan dan pesan. Kejadian ini menjadi pelajaran bagi saya, yang mau tak mau akhirnya harus membalas semua SMS yang masuk, dengan menjelaskan posisi saya sebagai penulis skenario.

Semua ini saya lakukan karena tak ingin mengecewakan penonton yang telah memberikan perhatiannya pada sinetron saya. Begitu tahu saya penulis skenario, banyak dari mereka yang masih aktif mengirim SMS guna menanyakan hal-hal seputar pembuatan skenario dan produksinya. Saya bangga, ternyata sinetron saya drtonton oleh banyak orang dari luar pulau, bahkan juga para marinir yang sedang bertugas di Aceh. Saya pun sempat tersanjung, ada seorang bapak polisi di Makassar, penggemar Menggapai Bintang, yang minta saya memberi nama bagi putri kembarnya yang baru lahir akhir Maret 2004 silam.

Namun, banyak yang kecewa saat sinetron ini berakhir pada episode 13 mereka protes karena ending-nya menggantung! Saya jelaskan kepada mereka bahwa konsep cerita saya sebenarnya 26 episode dan pemutusan di episode 13 bukan kehendakatau wewenang saya, tapi ada pada rumah produksi.


Pujian biasanya lebih banyak datang dari orang-orang di luar seniman, sementara kritikan biasanya justru datang dari kalangan sesama seniman. Ini sudah lumrah, persaingan antarpekerja seni. Begitu pula, kritikan biasanya justru sering datang dari para senior. Hal semacam ini perlu kita antisipasi cara menyikapinya. Jika itu me-nimpa saya, saya akan mendengarkan kritikan itu, apa isinya, sejauh mana kritikan itu dapat menjadi pelajaran bagi karya saya selanjutnya, sisi positifnya saya ambil, tapi yang menjatuhkan... buang saja!


Persaingan sesama penulis skenario rasanya jarang terdengar karena masing-masing memiliki lahan garapan yang tidak saling mengganggu. Namun, banyak kasus keributan justru terjadi antara penulis skenario dan sutradara. Ada satu-dua sutradara yang suka mengkritik skenario hasil karya penulis skenario dengan motivasi pribadi. Dia kritik habis skenario itu di depan produser agar ujung-ujungnya produser meminta sutradara untuk merevisinya sehingga dia akan mendapat honor tambahan dari revisi tersebut. Hal semacam ini sudah menjadi rahasia umum yang perlu kita waspadai. Apalagi, bila ternyata hasil revisi tidak semakin baik tapi malah sebaliknya karena sutradara (meski senior) ternyata tidak cakap menulis. Inilah yang biasanya memicu pertengkaran antara penulis skenario dan sutradara.

Untungnya sampai saat ini saya berusaha menghindari keributan dengan sutradara, walaupun skenario saya diacak-acak. Memang, tak dapat dipungkiri, dalam hati saya sebenarnya sangat kecewa dan menginginkan keadilan etika tentang hak cipta sebuah karya. Namun, sebagai penulis skenario saya mencoba untuk berpikir positif, yakni naskah yang telah dibeli oleh rumah produksi menjadi hak mereka, mau jadi seperti apa tayangannya itu sudah menjadi risiko saya. Kelihatannya apatis, tapi dengan berpikiran begitu, minimal kita tidak merasa terpukul jika hasil tayangan tidak seistimewa yang kita bayangkan.

Postingan Populer