Kecerdasan, Pengetahuan, Pengalaman, Pergaulan, Komunikasi, Belajar, Meningkatkan Keahlian Menulis Skenario


Menjadi penulis skenario perlu bekal kemampuan berpikir yang baik atau kecerdasan yang prima. Kecerdasan dibutuhkan untuk dapat mengolah cerita dengan baik, merangkai kisah demi kisah, konflik demi konflik secara menarik dan apik.

Kecerdasan juga diperlukan saat kita mendapat pesanan skenario. Pikiran cerdas membantu kita memahami maksud si pemesan, dalam hal ini adalah pihak production house atau broadcast sehingga kita tidak salah menafsirkan apa yang harus kita kerjakan.
Kecerdasan juga diperlukan saat kita diberi sebuah film oleh produser sebagai bahan referensi dalam membuat skenario pesanan produser. Agar kita dapat mengadaptasi dengan baik, janganlah mengutip mentah-mentah bahan tersebut. Cukup tangkap premisenya, ambil ide ceritanya, pakai tokoh 2-4 karakter, selebihnya... bikin sendiri! Jika kita mengutip plot/jalan cerita, lebih-lebih menjiplak adegannya, itu menunjukkan bahwa kecerdasan penulis skenario masih kurang.

Pengalaman saya ketika pertama kali mendapat film asing dari produser, kemampuan saya menyerap cerita untuk diadaptasi juga masih tumpul. Apalagi jika produser berpesan, "Jangan jauh-jauh dari ini ya...!", akan mempersempit langkah sang penulis. Sekian tahun kemudian saya baca kembali skenario tersebut, terasalah bagi saya, seakan satu kaki saya telah menginjak Indonesia, sementara sebelah kaki yang lain masih terpaku pada cerita aslinya. Pengalaman ini menunjukkan bahwa dalam menulis skenario memang diperlukan proses dan kerja keras, serta tak lepas dari unsur kecerdasan.

"Genius is one per cent inspiration and ninety-nine per cent perspiration". Kecerdasan yang luar biasa itu hanya satu persen saja yang berasal dari ilham, karena yang sembilanpuluh sembilan persen berasal dari kerja keras. Itulah pendapat Thomas Alva Edison, penemu dari Amerika.


"The only good is knowledge, and the only evil is ignorance". Satu-satunya yang baik ialah pengetahuan, dan satu-satunya yang jahat ialah kemasabodohan. Itulah kata-kata Diogenes Laertius, seorang penulis Yunani.

Sebagai penulis skenario, pengetahuan luas juga sangat dibutuh-kan, agar cerita yang kita buat juga bernas dan dapat bervariasi, tidak melulu berbicara tentang hal yang ada dalam diri sendiri saja. Kita perlu banyak pengetahuan agar dapat memenuhi segala pesanan skenario. Dengan kata lain, kita siap mengerjakan pesanan dengan tema cerita apa saja, bila kita punya banyak pengetahuan.

Pahami segala macam bacaan, baik tiksi maupun non fiksi. Mulai dari yang menyangkut problem anak-anak hingga problem orang dewasa dan manula, baik kisah dari dalam negeri maupun cerita-cerita dari luar negeri. Selain itu, lahaplah berita-berita di koran dan televisi, dengarkan radio, dan intiplah segala hal yang ada di internet, guna menambah wawasan dan pengetahuan sehingga skenario kita tetap up to date dan tidak basi atau ketinggalan zaman. Contohnya, bila belakangan ini banyak sekali peristiwa yang terkait dengan bom maka kita bisa membuat cerita yang diilhami dari kasus itu. Atau, jika pemerintah sedang mengadakan pembersihan kota dengan menggusur rumah-rumah non permanen, kita bisa saja membuat cerita dengan tema seperti itu.

Kita juga perlu menonton segala macam film dan sinetron sekaligus belajar menjadi kritikus terhadap tayangan tersebut. Namun, sejelek apa pun cerita itu bila kita telah menontonnya dari awal, sebaiknya ikuti hingga akhir cerita agar dapat menjadi pembanding dengan apa yang akan dan telah kita kerjakan.

Hitopadesa berpendapat agak ekstrem, "A man in this world with-out learning is as a beast of the field." Manusia yang tidak berpenge-tahuan di dunia ini adalah sama seperti binatang di padang.


John Florio, seorang penulis Inggris berpendapat: "Time is the father of truth, and the experience is the mother of all things". Waktu adalah bapak kebenaran, dan pengalaman adalah ibu dari segala sesuatu.

Pengalaman dapat terjadi dengan sendirinya secara alami, namun ada juga pengalaman yang sengaja kita ciptakan, untuk menambah bekal pengalaman hidup kita. Seorang penulis skenario sebaiknya membekali diri dengan sebanyak mungkin pengalaman. Dengan kata lain, jangan segan-segan untuk mencoba sesuatu yang baru dalam hidup ini. Tentunya, sesuatu yang bersifat positif, bukan yang bersifat negatif atau yang melanggar hukum, agar kita tidak terjerat di dalamnya.

Hal-hal positif yang perlu kita coba misalnya soal makanan. Meski lidah kita tidak berselera terhadap makanan luar negeri, untuk kebutuhan pengalaman hidup, apa salahnya sekali-kali mencobanya sehingga membantu imajinasi kita tentang bagaimana kikuknya makan pizza dengan pisau dan garpu, atau bagaimana sulitnya makan bakso dengan sumpit, dan sebagainya. Contoh lain, meski kita seorang penakut, jangan gentar merasakan naik jet koster, arung jeram, panjat tebing, dan lain sebagainya.

Banyak pengalaman perlu kita rasakan, agar saat dibutuhkan untuk sebuah cerita, kita dapat menuliskannya dengan benar dan tanpa rasa canggung. Bersyukurlah kalau kita pernah punya pengalaman sebagai pemain/aktor sehingga kita dapat merasakan berperan sebagai apa saja. Seorang aktor yang pernah berperan sebagai dokter, misalnya, setidaknya dia pernah melakukan observasi terhadap tokoh tersebut.

Saya pernah punya pengalaman bermain sinetron dengan peran sebagai seorang ibu pemulung yang menguasai sebuah lapak. Saya syuting langsung di lokasi lapak pemulung di bawah kolong jalan layang. Di sana saya dapat merasakan hidup dalam kekumuhan dan mencium busuknya bau sampah, dan mengamati segala perilaku para pemulung asli sehingga semua itu memperkaya pengalaman saat saya membuat tulisan tentang hal tersebut. Pengalaman itu membuahkan cerita skenario sinetron Bidadari dengan sub judul "Daur Ulang Sampah", yang bercerita tentang anak seorang pemulung yang me-manfaatkan sampah untuk dibentuk menjadi mainan yang menarik lalu dijual, hasilnya untuk biaya melanjutkan sekolah. Dengan kata lain, cerita ini saya buat berdasarkan pengamatan saya tentang pengalaman orang lain.

Berbeda dengan yang dilakukan oleh Nikolai Gogol saat menulis cerita Overcoat, dia membuat cerita itu berdasarkan pengalaman orang lain yang hanya didengarnya lewat cerita orang-orang di sebuah pesta. Jadi, dia tidak mengalami atau melihat langsung peristiwa itu. Ada juga penulis yang menulis berdasarkan pengalaman pribadinya, misalnya Marcel Proust dan Harold Brodkey, yang mengandalkan pengalaman langsung untuk membuat plot dan tokoh-tokohnya.

Leonardo da Vinci mengatakan, "Experience never errs. What alone may arr is our judgement, which predicts effects that cannot be pro¬duced by our experiments". Pengalaman tidak pernah salah. Yang dapat salah hanyalah penilaian kita, yang meramalkan pengaruh-pengaruh yang tidak dapat dihasilkan oleh eksperimen kita.


Pergaulan juga sangat dibutuhkan oleh seorang penulis skenario. Pergaulan dengan segala kalangan, mulai dari yang kaya sampai yang miskin, yang muda sampai yang tua, yang genius sampai yang idiot, yang baik sampai yang jahat, dari berbagai kalangan tanpa mem-bedakan suku, agama, warna kulit, dan sebagainya. Luasnya pergaulan ini akan sangat membantu dalam membuat karakter tokoh dan menempatkan sesuatu pada posisi yang tepat. Kita wajib bergaul dengan semua orang, tapi untuk pergaulan yang menjurus pada hal negatif sebaiknya sebatas kita ketahui saja, tanpa harus terlibat di dalamnya boleh bergaul, tapi jangan terjerumus.

Pengalaman saya, saya pernah menampung lebih dari sepuluh orang yang bukan keluarga di rumah saya, dengan karakter, suku, dan agama berbeda-beda. Kami tinggal bersama bagai keluarga, dalam rumah seluas 300 meter persegi, tanpa rasa terganggu sedikit pun. Awalnya suami saya sempat protes dengan mengatakan saya 'ngusungi' geng teater dari Surabaya, la khawatir tak mampu meng-hidupi mereka. Yang terjadi kemudian, kehadiran mereka yang rata-rata rajin beribadah justru membuat karier kami menanjak. Setelah sekian tahun kami lewati bersama, yang muda lalu menikah, sedangkan yang sudah berkeluarga lalu memboyong anak dan istri serta sanggup mengontrak rumah sendiri. Inilah bagian dari kebahagiaan saya, melihat mereka sukses dan bahagia hidup bersama keluarga masing-masing. Sayatak pernah memberi apa-apa kepada mereka, tapi justru mendapatkan sesuatu yang sangat berharga, yaitu suasana pergaulan penuh rasa persaudaraan yang tak dapat dinilai dengan harta.

Membuka sanggar seni di rumah juga memungkinkan saya banyak bergaul dengan orang-orang dari berbagai kalangan. Para orang tua yang memasukkan anaknya ke sanggar kebanyakan orang-orang dari kelas menengah ke bawah karena sanggar saya tidak bersifat komersial. Profesi mereka bermacam-macam, ada yang penjual warung, penjaja minuman keliling, tukang kayu, penjahit, guru, kepala sekolah, pemilik toko, pemilik salon, pemilik antar-jemput sekolah, pemilik percetakan, penyanyi, penari, pemain, dokter, polisi, dan sebagainya. Karakter mereka pun berbeda-beda. Saya sering meng-amati mereka, di samping saya juga banyak mencari tahu dan belajar tentang profesi yang mereka geluti. Semua ini memperkaya saya dalam membuat karakter tokoh-tokoh dalam skenario.

Saya juga pernah punya pengalaman menarik saat bergaul dengan seorang homoseksual. la sering curhat pada saya untuk menceritakan penderitaan batinnya ketika sering diolok-olok teman-temannya dan dipandang sinis oleh orang-orang di sekitarnya. Padahal, ia tak pernah berkeinginan terlahir sebagai seorang homoseksual. Pengalaman ini membuahkan tulisan saya untuk FTV Drama berjudul Dosa Siapa. Di situ saya bercerita tentang seorang homoseksual yang dianggap pem-bawa virus AIDS, padahal virus itu diidap oleh istrinya yang sudah hamil saat dinikahinya, sebagai cara untuk menutupi status homoseksualnya,

sekaligus karena ayahnya menginginkan cucu laki-laki. Di luar dugaan, ternyata bayi laki-laki tersebut menderita HIV+ yang tertular dari ibunya. Semua orang sudah menuduh si homoseksual-lah pembawa virus itu. Tapi saat periksa darah, ternyata ia negatif karena dirinya invalid dan tak pernah berhubungan intim dengan istrinya. Di sini saya sengaja memihak pada para homoseksual karena AIDS awalnya adalah penyakit para gay, tapi belum tentu selalu mereka pembawa virus tersebut, bukan?
Dengan banyak bergaul, saya sering menciptakan tokoh yang aneh-aneh, yang banyak ditolak oleh produser. Cerita seorang homoseksual itu saya tulis tahun 1991 dan ditolak oleh beberapa PH & broadcast, sebelum akhirnya diproduksi oleh Prima Entertainment menjadi format FTV tahun 2003. Saya tidak pernah putus asa meski ditolak di satu tempat karena belum tentu juga akan ditolak di tempat lain. Begitu pula, ditolak saat ini bukan berarti di waktu mendatang juga akan selalu ditolak. Itu prinsip saya. Jadi, saya akan tetap men¬ciptakan karakter tokoh yang unik dengan cerita yang bervariasi.


Sebagai penulis skenario, kita juga harus banyak berkomunikasi dengan semua kalangan untuk mendapatkan informasi yang berharga. Di mana pun kita berada, bertemu dengan siapa yang pantas kita sapa, tak ada salahnya kita bangun komunikasi.

Selain komunikasi face to face, bisa juga kita menjalin komunikasi via telepon dengan orang/perusahaan/instansi yang belum kita kenal. Pengalaman saya saat membuat FTV Natal Kasih di Atas Segalanya, saya membuat cerita tentang seseorang yang terpaksa menculik anak majikannya untuk meminta tebusan guna membayar biaya operasi jantung ibunya. Tapi malang, anak yang diculiknyajatuh ke jurang air

terjun saat berusaha kabur dan meninggal dunia. Nah, untuk mendapatkan informasi tentang biaya operasi jantung, saya langsung menelepon rumah sakit untuk mencari tahu biaya operasi jantung se¬hingga saat menuliskan angkanya di dalam dialog saya tidak ragu dan jadi masuk akal bila si tokoh yang hanya pegawai rendah itu sampai melakukan tindak kriminal untuk mendapatkan uang. Meski, dalam praktik syutingnya masih harus disesuaikan lagi, jika RS yang dipakai tidak setingkat dengan RS yang saya tanyai tadi.

Selain berkomunikasi dengan orang yang belum kita kenal, kita perlu juga berkomunikasi melalui telepon/HP atau pesan singkat (SMS) dengan teman-teman. Banyak kiriman SMS yang cuma berisi lelucon-lelucon nakal, yang asal dikirim tanpa tujuan tertentu, kecuali sekadar menjalin komunikasi. Namun, hal ini justru memberi inspirasi ide bagi saya, mengilhami saya untuk membuat cerita komedi serial lepas Klinik Parno, dengan salah satu subjudulnya "Gara-Gara SMS". Di situ saya menceritakan tentang pertengkaran suami istri gara-gara SMS iseng, lalu ada seorang istri lain yang ingin menyantet wanita yang sering mengirimi SMS suaminya, kemudian ada seorang kakek yang selalu tertawa keras setiap mendapat kiriman SMS lucu, dan lain sebagainya.

Selain komunikasi dengan masyarakat awam dan teman-teman, kita juga perlu melakukan komunikasi dengan sesama insan per-sinetronan dan perfilman di Indonesia dan di luar negeri. Kita bisa melakukan chatting lewat Internet, saling berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang dunia televisi dan film. Komunikasi dengan seniman dan orang film juga bisa kita lakukan dengan mendatangi tempat-tempat berkumpulnya para seniman, yaitu komunitas seni di seluruh Indonesia. Di Jakarta yang paling mudah kita jangkau adalah di TIM, IK), atau TUK.


Meski sudah cukup berumur, kita tidak perlu malu atau berhenti belajar guna menambah pangetahuan dan kecakapan dalam segala hal. Jangan segan-segan untuk belajar bahasa asing karena dengan mempelajari berbagai bahasa, kita akan bisa membaca buku-buku dari berbagai negara dan dapat berkomunikasi dengan orang-orang asing dari berbagai bangsa. Bisa juga, belajar ilmu kesehatan dengan cara mendatangi rumah sakit dan bertanya tentang hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan atau obat-obatan yang dibutuhkan untuk mencegah dan menanggulangi suatu penyakit. Tak malu bertanya dan belajar segala hal akan memperkaya tulisan kita.

Pengalaman saya, hampir dalam setiap skenario yang akan saya tulis, saya selalu membaca buku. Saat saya menulis skenario Kembang Layang-layang, misalnya, saya bercerita tentang seorang pemuda yang terkena penyakit kanker darah/leukemia sehingga saya mencari banyak buku tentang kanker. Apa maksud pengobatan dengan cara kemoterapi, radioterapi, atau pembedahan, bahkan ada juga cara transplantasi sumsum tulang. Apa obat tradisionalnya? Lalu, bagaimana perasaan si penderita, dan sebagainya. Dengan begitu, saya juga telah belajar.

Pernah juga ketika sedang menulis tentang dunia paranormal, saya memborong buku-buku tentang dunia ramal, horoskop, dunia jimat, susuk, santet, kekuatan kristal, dan sebagainya. Dari buku-buku itulah saya mempelajari dunia mistik yang sebelumnya jauh dari pengetahuan saya.

Belajar adalah kutuk masa kanak-kanak, minyak masa muda, ke-gemaran masa dewasa, dan obat kuat masa tua. Itulah pendapat Walter Savage Landor, penulis Inggris, "Study is the bane of boyhood, the oil of youth, the indulgence of manhood, and the restorative of old age."


Melakukan perjalanan ke sebuah tempat juga perlu dilakukan oleh seorang penulis skenario guna memperkaya wawasan tentang tempat-tempat yang nantinya sangat dibutuhkan untuk membuat sett/ngda\am cerita sehingga suasananya dapat tergambarkan secara jelas. Selain menyempatkan diri melakukan perjalanan ke berbagai tempat menarik di tanah air, melakukan perjalanan ke luar negeri juga tidak salah untuk diagendakan.


Saat saya mendapat order menulis beberapa skenario FTV Misteri, saya melakukan perjalanan ke daerah-daerah pedesaan dengan mobil pribadi dari Jakarta menuju Surabaya. Cerita tentang misteri Babi Ngepet saya dapatkan di Cepu, seorang saudara bercerita tentang pengalaman tetangganya yang menganut pesugihan babi ngepet. Sampai Surabaya pun saya banyak ngobrol dengan teman-teman sehingga skenario FTV Misteri Babi Ngepet menjadi lebih sempurna. Selain itu, dari hasil ngobrol-ngobrol dengan teman-teman di desa-desa lain di Jawa Timur, membuahkan skenario FTV Misteri antara lain Tumbal, ReogPonorogo, Genderuwo, serta tabungan cerita misteri lain yang belum sempat ditulis skenarionya.

Postingan Populer